Tag Archives: pare

Bukit Onga’an Besowo KediriĀ 

Pare, Kediri 25 Mei 2017 hari libur nasional yang tidak disia-siakan untuk mengisi hari libur. Kamis pagi rencana habis subuh sudah berangkat namun menjadi mundur karena perut agak sedikit bermasalah…..perutnya mules, mungkin kebanyakan pedas hari sebelumnya.

Sudah meluncur bersama teman-teman tapi masih menunggu satu teman lagi yang mengetahui jalan menuju Bukit Onga’an. Ya Bukit Onga’an berada di Besowo Timur Kecamatan Kepung Kediri yang satu tahun ini mulai terkenal dengan pemandangan alam yang berlatar belakang Gunung Kelud. Ketenarannya menantang tim BCC (BISI Cycling Club) perjuangan untuk mencoba trek jalur menuju Bukit Onga’an.

Tepat jam 6 pagi (sudah kesiangan) tim BCC perjuangan berangkat berempat menuju Bukit Onga’an. Dari Tulungrejo Kecamatan Pare menyusuri jalan TPK Gedangsewu menuju ke Kepung. Masih dengan jalan beraspal yang sedikit menanjak walaupun tidak terlihat tetapi terasa juga dipaha kalau jalannya naik. Sampai Pasar Dinoyo tim masih bersemangat. Kanan kiri perumahan penduduk sesekali melewati peternakan ayam yang lumayan baunya. Sampai di pertigaan arah Kepung dan Kandangan kami ambil arah kanan menuju Siman. Lumayan jalannya mulai menanjak dan kamipun sesekali berhenti untuk istirahat mengatur nafas.

Sampai pertigaan Sidodadi jalan masuk gang yang cukup masuk satu mobil. Perlu hati-hati karena setelah masuk ternyata jalannya turun curam, meskipun beraspal namun sempit. Untuk kelas sepeda pancal harus ekstra hati-hati. Sampai pertigaan belok kanan dan wau jalannya sangat menanjak. Dilihat sepertinya terasa berat untung dipojok pertigaan ada penjual pisang akhirnya kami memutuskan untuk istirahat beli pisang buat pengganjal perut. Setelah istirahat kami lanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda kami.

Masuk perkampungan dengan jalan cor beton lumayan sepeda bisa dinaiki. Namun tidak jauh kami sudah masuk area hutan. Jalan yang kami lewati berupa jalan tanah yang berdebu. Jalan ini adalah jalan yang biasa dilewati oleh pencari rumput dari hutan. Medan yang berat memaksa kami untuk sering berhenti beristirahat. Melewati hutan yang lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi sesekali kami berpapasan maupun disalip oleh sepeda motor yang lewat.

Trek jalannya memang cocok untuk trek montor trail. Sebelum masuk pintu tiket kami disuguhi jalan yang sangat menanjak dan berbatu dan lagi lagi kami harus menuntun sepeda kami. Sampai dipintu tiket kamipun beristirahat lagi sambil menghabiskan pisang yang kami beli. Sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga pintu tiket kami mengembalikan tenaga yang terkuras. Setelah kembali fit kami melanjutkan perjalanan dan ternyata kami tidak ditarik biaya tiket…mungkin kasihan karena melihat kami yang sudah kepayahan naik pakai sepeda…hahahaha

Dari pintu tiket ini menurut penjaga tinggal 2 km atau sekitar 10-15 menit perjalanan sepeda motor…weh itu sepeda motor kalau sepeda pancal berapa jam ya? Tapi kami tetap semangat. Dengan medan jalan tanah yang berpasir kami harus hati-hati karena jalan jadi licin. Jalan semakin menanjak kanan kiri terlihat tanaman pangan petani sekitar. Pohon-pohon yang tumbuh tinggi terlihat sebagian yang terbakar akibat letusan Gunung Kelud tahun 2014 yang lalu. Tanjakan-tanjakan kami lalui akhirnya puncak bukit mulai terlihat dan akhirnya tanda arah Bukit Kura-Kura sudah terbaca. Ini tandanya sudah mulai masuk area bukit yang kami tuju.

Bukit kura-kura berada disebelah kiri jalan yang dipisahkan dengan jurang yang sangat dalam. Bagi yang senang selfie atau wefie bisa foto-foto dulu. Masuk area bukit onga’an disuguhi jalan menanjak yang sangat ekstrem lagi. Namun setelah itu akan disuguhi pemandangan alam yang sangat indah dan menawan sejuk serta segar udaranya. Perjalanan dari Tulungrejo Pare 3 jam lebih sedikit dengan sepeda pancal.

Di Bukit Onga’an ada juga pohon cinta bagi muda-mudi yang lagi kasmaran. Berhubung tim BCC tidak ada yang membawa pasangan maka kami putuskan untuk menikmati jajanan yang ada dengan minuman khasnya kopi besowo.

Bagi pembaca yang mau mencoba menghilangkan penat diakhir pekan bisa dicoba ke Bukit Onga’an tapi saran kami bawa sepeda motor aja biar tidak terlalu capek.

Selamat mencoba dan selamat menikmati

Advertisements