Gunung Sepikul antara Fakta dan Mitos

image

Gunung batu yang berada di perbatasan Desa Gentan dan Desa Brenggalan Kabupaten Sukoharjo ini berdiri kokoh bak pintu benteng. Gunung Sepikul orang-orang sekitar menyebutnya.

Gunung sepikul ini secara fisik terdiri dari dua buah batu besar yang menjulang tinggi seperti dua beban yang dipikul (dipundak dengan bantuan bambu yang menhubungkan kedua beban). Diantara dua batu besar itu terdapat jalan yang menghubungkan antara Dusun Baseng (Desa Gentan) dan Desa Brenggalan. Kedua batu itu menjadi rangkaian yang gagah dengan Gunung Gajah Mungkur (Yang mengarah ke selatan) dan bukit Gunung Lor (yang mengarah ke utara). Di Gunung Sepikul ini juga terdapat ratusan kawanan kera yang menghuni dan apabila beruntung bisa melihat kera putih yang besar yang merupakan pimpinan kera-kera disana.

Di masyarakat sekitar berkembang sebuah legenda bahwa Gunung Sepikul merupakan batu yang dibawa oleh Bandung Bondowoso saat memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Rara Jongrang untuk menikahinya. Legenda tersebut berkaitan dengan berdirinya Candi Prambanan di Klaten.

Terkisahkan ada putri raja yang sangat cantik jelita dilamar oleh seorang pemuda benama Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso adalah putra dari raja Pengging yang juga telah membunuh Raja Prambanan yang juga ayah dari Rara Jongrang. Karena kebencian Rara Jongrang terhadap Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahnya dan ketidakmampuan Rara Jongrang menolak lamaran Bandung Bondowoso maka Rara Jongrang mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Bandung Bandowoso. Rara Jongrang bersedia dinikahi oleh Bandung Bondowoso apabila Bandung Bondowoso dapat membuatkannya 1000 candi dalam semalam. Seribu candi tersebut harus jadi sebelum ayam jantan berkokok pertanda pagi tiba.

Bandung Bondowoso kala itu terkenal dengan kesaktian mandragunanya langsung menyanggupi untuk membuat 1000 candi dalam semalam. Bandung Bondowoso segera besemedi memanggil seluruh alam jin untuk membantunya membuat candi. Terkisah pertengahan malam Bandung Bondowoso yang dibantu jin-jin seluruh alam telah menyelesaikan 999 candi. Mendengar kabar tersebut Rara Jongrang sangat kuatir persyaratannya terpenuhi dan dia harus menjadi istri orang yang telah membunuh ayahnya. Dengan segala pikirannya Rara Jongrang menemukan ide untuk mengagalkan pembuatan candi. Rara Jongrang membangunkan masyarakat kala itu untuk memulai aktifitas nutu padi (giling padi) dengan alu dan lesung (alat untuk mengiling padi) dan membakar sampah atau batang-batang kayu sehingga terlihat sinar matahari pagi mulai bersinar disebelah timur (etan). Tak ayal lagi ayam jantan yang melihat kondisi masyarakat yang sudah beraktifitas dan adanya sinar disebelah timur maka ayam pun berkokok pertanda pagi telah tiba.

Dari kisah masyarakat yang nutu padi dengan alu dan lesung masyarakat merasakan kebas dan tangan yang geseng (Lebam merah-merah) di tangannya. Dari istilah itulah kemudian menjadi nama daerah di barat Gunung Sepikul dengan nama Baseng (Kebas dan geseng). Sedangkan masyarakat di barat Baseng yang melihat api di timur atau orang jawa menyebutnya geni neng wetan menjadi dusun Gentan (geni neng wetan)…….ini cuma gotak gatuk e penulis aja….hehehe….

Melanjutkan kisahnya Bandung Bondowoso yang membuat candi, karena sudah mendengar suara kokok ayam maka jin-jin yang membantu Bandung Bondowoso segera lari tunggang langgang meninggalkan tugas yang diembannya. Kebetulan batu yang dibawa dari Pacitan baru sampai di daerah Gentan dan oleh para jin dijatuhkan disitu dan terbentuklah Gunung Sepikul. Singkat cerita Bandung Bondowoso yang merasa dikerjai marah besar dan menyumpah Rara Jongrang menjadi patung Rara Jongrang dan sekaligus menjadi candi yang ke 1000. Keseribu candi ini masih bisa kita saksikan di komplek Candi Prambanan Klaten.

Terlepas dari cerita legenda tersebut Gunung Sepikul mrnyimpan berbagai mitos yang sangat di pegang oleh warga di sekitarnya. Pantang bagi iring-iringan pengantin yang mau menuju tempat hajat melewati jalan diantara Gunung Sepikul ini. Konon kabarnya pengantin yang melewati jalan tersebut usia pernikahannya tidak akan langgeng sampai mati. Huallahu alam bisawab.

Sekarang Gunung Sepikul menjadi daya tarik wisata tersendiri. Banyak pecinta alam yang suka climbing memanfaatkan medan tebing gunung sepikul untuk latihan. Sekarang juga banyak orang yang penasaran untuk naik ke puncak walau sebatas untuk selfie. Di puncak Gunung Sepikul memang menawarkan keindahan alam yang sangat eksotis. Hamparan sawah terhampar luas menghijau bak permadani. Pemukiman warga tertata secara alami yang bisa menyegarkan sejauh mata memandang dan kalau beruntung kita berkesempatan untuk melihat sunset yang sangat indah.

Gunung Sepikul
Sukoharjo Makmur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s